Halaman

Minggu, 09 Desember 2018

SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI "MALAIKAT SEBAGAI PENDIDIK"

SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI
"MALAIKAT SEBAGAI PENDIDIK"



M Abdul Mufid
Nim: 2117266
Kelas E

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIAH DAN ILMU KEGURUAN
2018


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur dengan berkat rahmat Allah SWT yang telah memudahkan kami dalam menyelsaikan tugas makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW,Rasulullah yang terakhir yang diutus dengan membawa syafaatnya yang penuh rahmah dan membawa pada keselamatan dunia dan akhirat.
Adapun makalah Tafsir Tarbawi I ini kami buat dengan usaha semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan dari berbagai pihak,sehingga dapat mempelancar proses pembuatan makalah ini. Oleh karena itu,kami juga mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini.
Dengan demikian kami mengharapkan semoga makalah Tafsir Tarbawi I tentang “Subyek Hakiki Pendidikan (Malaikat sebagai Pendidik)” ini dapat diambil manfaatnya dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat memberikan inspirasi kepada para pembaca. Selain itu kritik dan saran dari para pembaca selalu kami nantikan agar nantinya menjadi pertimbangan untuk diperbaikilebih baik lagi makalah ini.
Atas perhatian dan partisipasinya kami mengucapkan Terima kasih.




                                                                       Pekalongan, 23  Oktober 2018
                                                                                  
                                                                                                Pemakalah





DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.    Latar Belakang.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................2
A.      pengertian Malaikat...................................................................................2
B.      DALIL DALIL.........................................................................................7
C.      Tafsir Surat An-Najm Ayat 5-6.................................................................7
D.      Aspek Tarbawi ......................................................................................... 9
BAB III PENUTUP...............................................................................................10
A.    Kesimpulan.................................................................................................10
B.     Saran...........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 12
BIODATA PEMAKALAH................................................................................... 13



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kita sebagai umat beragama, Islam, tentunya mempunyai pedoman hidup sesuai perintah Allah SWT yaitu Al-Qur’an. Dalam pedoman tersebut terdapat aturan-aturan yang harus kita laksanakan dan larangan-larangan yang harus kita tinggalkan. Al-qur’an adalah sumber hukum islam yang pertama bagi umat muslim. Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia di dalamnya menyimpan berbagai mutiara yang mahal harganya yang jika dianalisis secara mendalam sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diantara mutiara tersebut adalah beberapa konsep pendidikan yang terkandung dalam Al-Quran, diantara konsep tersebut adalah konsep awal pendidikan, kewajiban belajar, tujuan pendidikan dan subjek pendidikan.
Proses pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari peran pendidik dan peserta didik itu sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan diantaranya ditentukan oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan, berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta didik, kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai oleh peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan. Kehidupan kita tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan sangat penting bagi kita umat Islam. Sebagai seorang calon pendidik, tentunya kita diharapkan menjadi seorang pendidik yang profesional. Dalam Al –Qur’an telah dijelaskan bagaimana menjadi guru yang baik dan profeional. Dengan demikian kita akan dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan ajaran islam. Selain kita mendapatkan rizqi kita juga akan mendapatkan berkah dan ridhonya dari Allah SWT. Pada bab selanjutnya akan dibahas lebih detail tentang subjek pendidikan menurut Al-Qur’an.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian malaikat

Malaikat adalah makhluk halus yang besifat cahaya, yang dapat menampakkan diri dengan berbagai bentuk yang berbeda-beda, tetapi tidak diberi sifat laki-laki atau perempuan. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah SWT. tidak ada satu tempat pun dilangit dan dibumi ini yang tidak terisi oleh malaikat.[1]
Malaikat bukanlah jasad yang dapat kita lihat. Karena itu, segala sesuatu yang berlaku pada jasad fisik seperti lahir, hidup, dan mati tdak berlaku bagi malaikat. Mereka adalah makhluk khas ciptaan Allah dan mempunyai berbagai sifat yang berbeda dari segenap makhluk lainnya.[[2]2]
2.     Tugas malaikat
Malaikat mempunyai bermacam-macam tugas, mereka tidak memiliki syahwat yang dapat memperdayakan dirinya untuk tidak mengingat Allah SWT:
يُسَبِّحُونَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. (Al 'Anbiya'[21]:20)
Diantara tugas para malaikat adalah mengatur segala urusan, menyampaikan wahyu kepada para nabi dan hamba Allah yang dikehendaki-Nya, mendoakan kaum mukmin dan memohonkan ampun,membaca shalawat bagi Nabi Muhammmad S.A.W., mencatan amal pebuatan manusia, mencabut nyawa manusia,meniup sengkakala, menjaga neraka dan menyiksa penghuninya, menjaga surga dan memberi salam penghuninya, dan lain-lain.
Malaikat memiliki bentuk tersendiri dialam gaib yang mampu berubah jika mereka turun kebumi untuk menjalankan suatu tugas. Jadi, tidak ada seorang pun mengetahui bentuk asli malaikat yang diciptakan oleh Allah, kecuali jika ia adalah pemimpin para Nabi dan penutup para Rasul-Nya,serta menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Rasulullah SAW pernah dua kali melihat bentuk asli malaikat jibril: ketika beliau pertama kali menerima risalah islam dan ketika berada di Sidrah al- Muntaha dalam peristiwa Isra’-Mi’raj.
Adapun malaikat sebagai pendidik adalah malaikat Jibril, malaikat jibril adalah Ruh al- Amin, utusan Allah kepada rasul-rasul-Nya dan pemuka para malaikat. Jibril juga termasuk tentara Allah dan hamba-Nya, yang hanya bertindak serta turun kebumi atas perintah-Nya.
Subjek pendidikan sangat berpengaruh pada keberhasilan atau gagalnya suatu  pendidikan. Subjek pendidikan atau seorang pendidik adalah orang yang bertanggung jawab memberikan suatu pengejaran atau pendidikan sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta didik atau objek pendidikan. Subjek pendidikan yang dipahami oleh kebanyakan para ahli yaitu orang tua, guru-guru di sekolah (dalam lingkup Formal) maupun dalam lingkaran informal atau masyarakat. Pendidikan pertama yang kita ketahui selama ini adalah lingkungan keluarga (orang tua), yang biasanya dipelajari dalam psikologi pendidikan.  Namun harus kita ketahui sebagai umat Islam subjek pendidikan yang sebenarnya adalah Allah SWT dan yang kedua adalah Nabi Muhammad SAW.
Pada surat An-Najm ini ditegaskan klasifikasi seorang pendidik atau siapa saja yang berkompeten menjadi subjek pendidikan yakni seperti yang tersurah dalam ayat ini  adalah seperti halnya malaikat Jibril yang mana beliau gambarkan sebagai berikut:
a.       Sangat kuat, maksudnya memiliki fisik dan psikis yang matang dan mampu memecahkan masalah.
b.      Mempunyai akal yang cerdas, yakni seorang pendidik haruslah mempunyai akal yang mumpuni dalam bidangnya yakni berkompeten dalam mengajarkan apa yang diajarkannya sebagai seorang subjek pendidikan.
c.       Menampakkan dengan rupanya yang asli, yakni seorang subjek pendidikan hendaklah bersikap wajar yang tidak melebih-lebihkan segala sesuatu baik dari dirinya maupun apa yang dilakoninya dalam bidangnya.[3]
B.     Dalil Malaikat Sebagai Pendidik
QS. An-Najm Ayat 5-6
عَلَّمَهُ شَدِ يْدُ الْقُوَى (5) ذُو مِرَّةٍ فَا سْتَوَى (6)
Artinya:
“Ia diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat, pemilik potensi yang sangat hebat; lalu dia tampil sempurna.”
C.     Tafsir Surat An-Najm Ayat 5-6
1.      Tafsir Al-Mishbah
Kata (علمه) bukan berarti bahwa wahyu tersebut bersumber dari malaikat Jibril. Seorang yang mengajar tidak mutlak mengajarkan sesuatu yang bersumber dari sang pengajar. Bukankah kita mengajar anak kita membaca, padahal sering kali bacaan yang diajarkan itu bukan karya kita. Menyampaikan atau menjelaskan sesuatu secara baik dan benar adalah salah satu bentuk pengajaran. Malaikat menerima wahyu dari Allah dengan tugas menyampaikan secara baik dan benar kepada Nabi saw., dan itulah yang dimaksud dengan pengajaran disini.
            Kata ( ةمرّ) terambil dari kalimat (اَ مْرَرْ تُ الْحَبْلَ) yang berarti melilitkan tali guna menguatkan sesuatu. Kata (ذو مرة) digunakan untuk menggambarkan kekuatan nalar dan tingginya kemampuan seseorang. Al-Biqa’i memahaminya dalam arti ketegasan dan kekuatan yang luar biasa untuk melaksanakan tugas ynag dibebankan kepadanya tanpa sedikitpun mengarah kepada tugas selainnya disertai dengan keikhlasan penuh. Ada juga ynag memahminya dalam arti kekuatan fisik, akal, dan nalar.
            Ada lagi ulama yang memahami ayat ini sebagai berbicara tentang Nabi Muhammad saw., yakni Nabi agung itu adalah seorang tokoh yang kuat kepribadiannya serta matang pikiran dan akalnya lagi sangat tegas dalam membela agama Allah.[4]
2.      Tafsir Al-Azhar
“Yang memberinya ajaran ialah yang sangat kuat.” (ayat 5)
Inilah jaminan selanjutnya tentang wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw., itu. Bahwasannya yang mengajarkan wahyu itu kepada beliau ialah makhluk yang sangat kuat. Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan yang sangat kuat ialah Malaikat Jibril.
“Yang mempunyai keteguhan.” (pangkal ayat 6). Mujahid, al-Hasan dan Ibnu Zaid member arti: “Yang mempunyai keteguhan.” Ibnu Abbas member arti: “Yang mempunyai rupa yang elok.”  Qatadah member arti: “Ynag mempunyai bentuk badan yang tinggi bagus.” Ibnu Katsir ketika member arti berkata: “Tidak ada perbedaan dalam memberi arti yang dikemukakan itu.” Karena Malaikat Jibril itu memang bagus dipandang mata dan mempunyai kekuatan luar biasa. Lanjutan ayat ialah (فا ستو ى) artinya: “yang menampakkan diri yang asli.”
Menurut riwayat dari Ibnu Abi Haitam yang diterimanya dari Abdullah bin Mas’ud, bahwasannya Rosululloh saw. melihat rupanya yang asli itu dua kali. Kali yang pertama ialah ketika Rosul saw. meminta kepada Jibril supaya sudi memperlihatkan diri menurut rupanya yang asli. Permintaan itu dia kabulkan, lalu kelihatanlah dia dalam keasliannya itu memenuhi ufuk. Kali yang kedua ialah ketika ia memperlihatkan dalam keadaannya yang asli itu, ketika Jibril akan menemani beliau pergi Isra’ Mi’raj. Dalam pernyataan diri dari keasliannya itu, Nabi melihatnya dengan sayap yang sangat banyak, 600 (enam ratus) sayap.[5]
3.      Tafsir Al-Maragi
Nabi saw., tak pernah diajari oleh seorang manusia pun. Akan tetapi ia diajari oleh Jibril yang berkekuatan hebat. Sedang manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang daif. Ia tidak mendapatkan ilmu kecuali sedikit saja. Di samping itu, Jibril adalah terpercaya perkataannya. Sebab, kecerdasan yang kuat merupakan syarat kepercayaan orang terhadap perkataan orang lain. Begitu pula ia terpercaya hafalan maupun amanatnya. Artinya dia tidak lupa dan tak mungkin merubah.
Jibril memiliki kekuatan-kekuatan pikiran dan kekuatan-kekuatan tubuh. Sebagaimana diriwayatkan bahwa ia pernah mencukil negeri kaum Lut dari laut Hitam yang waktu itu berada dibawah tanah. Lalu memanggulnya pada kedua sayapnya dan diangkatnya negeri itu ke langit, kemudian dibalikkan. Pernah pula ia berteriak terhadap Kaum Samud, sehingga mereka mati semua.
Jibril pernah menampakkan diri dalam rupa yang asli, sebagaimana Allah menciptakan dia dalam rupa tersebut, yaitu ketika Rosululloh saw. ingin melihatnya sedemikian rupa. Yakni bahwa Jibril itu menampakkan diri kepada Rosulullah saw. pada ufuk yang tertinggi, yaitu ufuk matahari.[6]
D.    Aspek Tarbawi
1.     Seorang pendidik harus cerdas dalam mengajar, kuat menghadapi anak didiknya, serta harus konsisten antara ucapan dan perbuatannya.
2.     Seorang pendidik dapat menjadi model dan teladan bagi murid-muridnya.
3.     Seorang guru bersikap sewajarnya tanpa ada sesuatu yang menyimpang.[7]



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pada surat An-Najm ini ditegaskan klasifikasi seorang pendidik atau siapa saja yang berkompeten menjadi subjek pendidikan yakni seperti yang tersurah dalam ayat ini  adalah seperti halnya malaikat Jibril yang mana beliau gambarkan sebagai berikut:
a.      Sangat kuat, maksudnya memiliki fisik dan psikis yang matang dan mampu memecahkan masalah.
b.     Mempunyai akal yang cerdas, yakni seorang pendidik haruslah mempunyai akal yang mumpuni dalam bidangnya yakni berkompeten dalam mengajarkan apa yang diajarkannya sebagai seorang subjek pendidikan.
c.      Menampakkan dengan rupanya yang asli, yakni seorang subjek pendidikan hendaklah bersikap wajar yang tidak melebih-lebihkan segala sesuatu baik dari dirinya maupun apa yang dilakoninya dalam bidangnya.








B.    Saran
               Demikian makalah ini kami buat. Kami sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin             

















DAFTAR PUSTAKA
Habub Zain bin Ibrahim bin Sumaith. 1998.  Mengenal Mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ikhsan Secara Terpadu. Bandung : Al-bayan
Bahjat Ahmad.  1998. Mengenal Allah. Bandung : Pustaka Hidayah
Hamka. Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXVII. Jakarta: PT. Kipas Putih Aksara.
Izzan, Ahmad.  2012.  Tafsir Pendidikan Studi Ayat-Ayat Berdimensi Pendidikan.  Banten: PAM Press.
Shihab, M. Quraish. 2003. Tafsir Al-Mishbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, Muhammad Quraish. Lentera Al-Qur’an: Kisah dan hikmah kehidupan. Bandung: Mizan Media Utama.













BIODATA PEMAKALAH









[1] Habub Zain bin Ibrahim bin Sumaith,  Mengenal Mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ikhsan Secara Terpadu (Bandung: Al-bayan, 1998) hlm. 115
[2] Ahmad Bahjat, Mengenal Allah (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998) hlm. 71

[3] Ahmad Izzan, Tafsir Pendidikan Studi Ayat-Ayat Berdimensi Pendidikan, (Banten: PAM Press, 2012), hlm. 203

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2003), hlm. 410-411
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXVII, (Jakarta: PT. Kipas Putih Aksara), hlm. 93
[6] Bahrun Abubakar, Tafsir Al-Maragi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1989), hlm 79-81
[7] Muhammad Quraish Shihab, Lentera Al-Qur’an: Kisah dan hikmah kehidupan (Bandung: Mizan Media Utama,2013),hlm 87

SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI “ALLAH MENGAJARKAN SEMUA ILMU”

SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI
“ALLAH MENGAJARKAN SEMUA ILMU”






Maulana Mujiarto Pangestu
NIM. (2117247) 
Kelas E

JURUSAN PAI
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN 
2018



KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWTyang telah melimpahkan rahmat, karunia serta hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Allah Mengajarkan Semua Ilmu”. Sholawat serta salam tidak lupa penuliscurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sebagai rahmatan lil alamin.
Alhamdulillah makalah ini dapat diselesaikan semata-mata karena limpahan karunia-Nya dan bantuan serta dukungan dari semua pihak. Penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung terutama kepada orang tua, para dosen IAIN Pekalongan khususnya kepada bapak Muhammad Hufron sebagai dosen pengampu mata kuliah tafsir tarbawi, serta teman-teman yang saya banggakan.
Sehubungan dengan materi yang dikaji dalam makalah ini yaitu “Allah Mengajarkan Semua Ilmu” yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 31. Pembuatan makalah ini tidak hanya bersumber pada Al-Qur’an saja, namun juga buku-buku pendukung sebagai referensi yangmana buku-buku tersebut memiliki keterkaitan dengan topik makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik maupun saran positif yang bersifat membangun dan memotivasi dari pembaca demi perbaikan pada makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun pembaca pada umumnya.

Pekalongan, 20 Oktober 2016

Maulana Mujiarto Pangestu
BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Dalam Al-Qur’an dapat dilihat bahwa setelah Allah menyatakan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Allah mengajarkan kepada Adam dan semua keturunannya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah.
Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar urgen dalam kehidupan manusia, terutama orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh, menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan.
Mencari ilmu adalah suatu aktivitas yang memiliki tantangan. Orang yang mampu menghadapi tantangan itu adalah orang yang memiliki keikhlasan dan semangat rela berkorban. Orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju surga.
Dengan mengetahui bagaimana pentingnya ilmu pengetahuan itu, maka makalah ini akan akan membahas mengenai QS Al-Baqarah ayat 31. Dengan tujuan agar pembaca dapat lebih mengetahui lagi bagaimana pentingnya ilmu pengetahuan dan bagimana ilmu pengetahuan itu bisa ada.



  1. Judul Makalah
Makalah ini berjudul “Allah Mengajarkan Semua Ilmu” karena sesuai dengan tugas yang penulis terima dan sebagai mahasiswa dituntut untuk dapat memahami bahwa Allah-lah yang mengajarkan semua ilmu yang ada dan kita dituntut untuk dapat memahami ilmu-ilmu tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Teori
Ilmu merupakan suatu istilah yang berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘alima yang terdiri dari huruf ‘ayn, lam, dan mim. Secara harfiah ilmu dapat diartikan kepada tahu atau mengetahui. Secara istilah ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu.
Ada empat hal yang saling berkaitan dalam sistem perolehan ilmu, yaitu subjek yang memahami, objek yang dipahami, makna atausurah (form) yang berkaitan dengan objek yang dipahami, dan berhasilnya makna atau surah (form) itu terlukis dalam jiwa subjek yang memahami.
Pada hakikatnya, ilmu adalah salah satu sifat Allah, karena sifat itulah Dia disebut dengan ‘Alim (Yang Maha Tahu). Dia adalah sumber utama ilmu. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan anugerah-Nya. Ilmu Allah tidak terbatas, manusia hanya memperoleh sedikit saja daripadanya. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan ilmu dan pengetahuan yang telah diajarkan-Nya.
Al-Qur’an menggambarkan, ada dua cara Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan wahyu atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Cara yang terakhir ini berati, bahwa Allah mengajar manusia melalui media yaitu fenomena alam yang Dia ciptakan.
Maka pelajarilah Al-Qur’an dan alam niscaya manusia akan mendapatkan ilmu, ketenangan serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, Allah juga mengingatkan manusia agar mempelajari semua itu berangkat atau bermula dari Tuhan (bismi rabbik), supaya ilmu yang diperoleh tidak melahirkan kesombongan dan arogansi.[1]Terdapat lima keutamaan orang yang menuntut ilmu, yaitu:
1.      Mendapat kemudahan untuk menuju surga.
2.      Disenangi oleh para malaikat.
3.      Dimohonkan ampun oleh makhluk Allah yang lain.
4.      Lebih utama daripada ahli ibadah.
5.      Menjadi pewaris Nabi.[2]

  1. Nash dan Arti QS. Al-Baqarah Ayat: 31
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar’.”
Ada beberapa tafsiran mengenai QS Al-Baqarah ayat : 31, diantaranya :
1.      Tafsir Al-Maraghi
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا
Yang dimaksud dengan al-asma’ adalah nama-nama Allah, yakni nama-nama yang telah kita ketahui dan kita imani wujud-Nya. Sengaja digunakan istilah al-asma’ karena hubungannya kuat antara yang menamakan dan yang dinamai. Allah SWT telah mengajari Nabi Adam berbagai nama makhluk yang telah diciptakan-Nya. Kemudian Allah memberinya ilham untuk mengetahui eksistensi nama-nama tersebut. Juga keistimewaan-keistimewaan, cirri-ciri khas dan istilah-istilah yang dipakai.
ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ
Artinya, Kemudian Adam mengajarkan kepada para Malaikat beberapa nama tersebut secara ijmal dengan penyampaian berdasarkan ilham atau yang sesuai. Di dalam pengajaran dan penuturan Adam kepada para Malaikat terkandung tujuan memuliakan kedudukan Adam dan terpilihnya Adam sebagai khalifah. Dengan demikian, para Malaikat tidak lagi merasa tinggi diri. Sekaligus merupakan penunjukan ilmu Allah yang hanya dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ
Para Malaikat dituntut untuk menyebutkan nama-nama tersebut, tetapi mereka tidak akan mungkin mampu mengatakannya. Hal ini karena mereka sama sekali belum pernah mengetahuinya. Dalam ayat ini terkandung isyarat bahwa memegang tampuk khalifah, mengatur kehidupannya, menata peraturan-peraturannya, dan menegakkan keadilan selama di dunia ini diperlukan pengetahuan khusus yang membidangi masalah kekhalifahan, disamping adanya bakat untuk terjun di bidang ini.
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya, Apabila ada sesuatu hal yang membuat kalian heran mengenai khalifah yang diserahkan kepada manusia, dan kalian pun mempunyai dugaan kuat yang disertai bukti, maka silahkan kalian menyebut nama-nama yang Aku sebutkan dihadapan kalian.
Jadi, pengertian ayat tersebut seolah-olah mengatakan kepada Malaikat, “Kalian tidak mengetahui rahasia-rahasia apa yang kalian maksudkan. Jadi, bagaimana kalian berani mengatakan sesuatu yang belum kalian ketahui”.
Kata Haula’i terkandung suatu makna bahwa ketika Nabi Adam menyebutkan nama-nama tersebut, adalah menyebut nama-nama benda yang dapat dijangkau alat indra, seperti burung-burung, margasatwa, dan jenis-jenis hewan yang ada dihadapannya.[3]
2.      Tafsir Al Azhar
“Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya.” (pangkal ayat 31)
Artinya diberikan oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu:
“Kemudian Dia kemukaakan semuanya kepada Malaikat. Lalu Dia berfirman: Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.” (ujung ayat 31).
Sesudah Adam dijadikan, kepadanya telah diajarkan oleh Allah nama-nama yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia, baik dengan panca indra ataupun dengan akal semata-mata, semuanya diajarkan kepadanya. Kemudian Tuhan panggillah Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan adakah mereka tahu nama-nama itu?
      “Mereka menjawab : Maha Suci Engkau! Tidak ada pengetahuan bagi kami, kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu, lagi Maha bijaksana.” (ayat 32).
Di sini nampak penjawaban Malaikat yang mengakui kekurangan mereka. Tidak ada pada mereka pengetahuan, kecuali apa yang diajarkan Tuhan juga. Mereka memohon ampun dan karunia menjunjung kesucian Allah bahwasanya pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan juga. Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu kepada barang siapa yang Dia kehendaki.
Merenungi dari ayat ini, ahli-ahli tafsir dan kerohanian Islam mendapat kesimpulan bahwasanya dengan menjadikan manusia, Allah memperlengkap pernyataan kuasaNya.[4]
3.      Tafsir Ibnu Katsier
Di sini Allah menyebut kemuliaan kedudukan Nabi Adam a.s. karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda dan itu terjadi sesudah sujudnya para Malaikat kepada Adam, dan didahului pasal ini sesuai dengan pertanyaan para malaikat tetang hikmat pengangkatan khalifah di bumi yang langsung bahwa Allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Juga untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya.
Allama Aadam al asma’a kullah. Ibnu Abbas berkata, “Mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda yang akan dijadikan amnusia, binatang dan lain-lainnya dari segala keperluan hajat manusia di dunia ini.”
Anas r.a. berkata, Nabi Saw. Bersabda, “Kelak pada hari kiamat akan berkumpul semua kaum mukminin, kemudian mereka berkata, Andaikan kita mendapat syafi’ yang dapat menyampaikan hal kita kepada Tuhan, lalu mereka pergi kepada Adam dan berkata, Engkau ayah dari semua manusia, Allah telah menjadikan engkau langsung dengan tangan-Nya, dan memerintahkan kepada Malaikat supaya sujud kepadamu, dan mengajarkan kepadamu nama segala sesuatu maka berikan syafaatmu kepada Tuhan untuk meringankan kami dari penderitaan ini. Jawab Nabi Adam, “Bukan bagianku”” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah).
Dengan hadis ini nyata bahwa Allah telah mengajarkan kepada Adam semua nama dari segala sesuatu.[5]
  1. Aplikasi dalam Kehidupan
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat diambil beberapa hal, untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:
1.      Senantiasa percaya bahwa sumber dari segala ilmu adalah Allah SWT.
2.      Selalu memotivasi diri untuk terus menerus menuntut ilmu.
3.      Tidak  merasa tinggi hati dengan ilmu yang telah dimiliki.
4.      Mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya, agar tidak sia-sia dan bermanfaat bagi orang lain.
5.      Tidak merasa malas untuk menuntut ilmu.
6.      Mempelajari berbagai macam ilmu yang ada.
  1. Aspek Tarbawi
Dari beberapa penjelasan mengenai tafsir QS. AL-Baqarah ayat 31, hikmah pendidikan yang dapat diambil ialah:
1.      Bahwa orang menuntut ilmu lebih utama dari ibadah.
2.      Orang tanpa ilmu, akan merasa bahwa hidupnya dalam keadaan gelap gulita.
3.      Senantiasa mengingat bahwa, ilmu pengetahuan sangatlah penting, karena ilmu pengetahuan lah yang menjadi kebahagiaan kita di dunia maupun di akhirat.
4.      Senantiasa mengingat bahwa Allah lah yang mengajarkan ilmu kepada manusia. Dan Allah juga lah sumber dari segala ilmu yang ada.


BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu. Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah. Orang yang mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju surga.
Allah adalah sumber utama ilmu. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan anugerah-Nya. ada dua cara Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan wahyu atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Ilmu yang diperoleh tidak boleh melahirkan keegoisan, arogansi, dan tinggi hati.


DAFTAR PUSTAKA

M. Yusuf, Kadar. 2013. Tafsir Tarbawi (Pesan-Pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan). Jakarta: Amzah.
Umar, Bukhari. 2014. Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadis). Jakarta: Amzah.
Al-Maraghy, Ahmad Musthafa. 1985. Terjemah Tafsir Al-Maraghy. Semarang: Toha Putra.
Hamka. 2001. Tafsir Al Azhar Juz 1. Jakarta: CV Pustaka Panjimas.
Katsier, Ibnu. 1987. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT Bina Ilmu Offset.





[1] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi (Pesan-Pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan), (Jakarta: AMZAH, 2013), hlm. 16-20.
[2] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadis), (Jakarta: AMZAH, 2014), hlm. 16.
[3] Ahmad Musthafa Al-Maraghy, Terjemah Tafsir Al-Maraghy, (Semarang: CV. TOHA PUTRA, 1985) hlm. 137-139
[4] Hamka,Tafsir Al Azhar Juz I (Jakarta: Pustaka Panjimas,2001), hlm. 204-205
[5] Ibnu Katsier,Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier (Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset, 1987), hlm. 84

SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI "MALAIKAT SEBAGAI PENDIDIK"

SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI "MALAIKAT SEBAGAI PENDIDIK" M Abdul Mufid Nim: 2117266 Kelas E JURUSAN PENDIDIKAN A...