SUBYEK PENDIDIKAN HAKIKI
“ALLAH MENGAJAR NABI ADAM
AS”
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi D
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, M.SI
Disusun
Oleh :
I’anatul Maula (2117250)
Kelas D
FAKULTAS TARBIYAH DAN
ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI PEKALONGAN
2018
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas nikmat,
karunia, dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Tafsir
Tarbawi yang berjudul “Allah Mengasjar Nabi Adam AS” dengan sebaik mungkin, saya
berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai “Tafsir Tarbawi”. Makalah ini kami buat berdasarkan
reverensi yang kami temukan dari berbagai sumber yang ada.
Demikian
sedikit pengantar dari saya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya. Terimakasih saya ucapkan kepada bapak Muhammad Hufron M Si selaku
dosen pembimbing yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini, dan saya
berharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami
buat dilain kesempatan.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Pekalongan, Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Dalam Al-Qur’an dapat dilihat bahwa
setelah Allah menyatakan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Allah mengajarkan
kepada Adam dan semua keturunannya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sangat
dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun
di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya
dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah.
Hal itu menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan itu memang benar-benar urgen dalam kehidupan manusia, terutama
orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat
melaksanakan aktivitasnya dengan baik. Oleh karena itu, Rasulullah menyuruh,
menganjurkan, dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan.
Mencari ilmu adalah suatu aktivitas
yang memiliki tantangan. Orang yang mampu menghadapi tantangan itu adalah orang
yang memiliki keikhlasan dan semangat rela berkorban. Orang yang mencari ilmu
dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya jalan menuju
surga.
Dengan mengetahui bagaimana
pentingnya ilmu pengetahuan itu, maka makalah ini akan akan membahas mengenai
QS Al-Baqarah ayat 31. Dengan tujuan agar pembaca dapat lebih mengetahui lagi
bagaimana pentingnya ilmu pengetahuan dan bagimana ilmu pengetahuan itu bisa ada.
B.
Rumusan
Masalah.
1. Bagaimana Kisah Nabi Adam AS mendapatkan ilmu ?
2. Jelaskan Dalil Allah SWT tentang mengajarkan kepada nabi Adam AS
?
3. Jelaskan Tentang Ilmu yang dimiliki manusia.
C.
Tujuan.
1.Untuk mengetahui Nabi Adam AS mendapatkan Ilmu.
2.Untuk mengetahui Dalil Allah Swt mengajar ilmu kepada Adam AS
3.Untuk mengetahui Ilmu yang miliki manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Nabi Adam AS
Mendapat Ilmu.
Nabi Adam AS adalah manusia
pertama,ia adalah makhluk yang teramat cerdas,sangat dimuliakan oleh
Allah,memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain. Adam
diciptakan oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam
yang dibentuknya,maka ditiupkanlah roh kedalamnya sehingga ia dapat bergerak
dan menjadi manusia yang sempurna.
Allah menyebut kemuliaan kedudukan
nabi Adam a.s karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda dan itu
terjadi sesudah sujudnya para malaikat kepada Adam,dan didahului pasal ini
sesuai dengan pertanyaan para malaikat tentang hikmat pengangkatan khalifah
dibumi yang langsung bahwa allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui. Juga
untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya itu.
B.
Dalil Allah SWT Mengajarkan Ilmu Kepada Nabi Adam AS.
QS. Al-Baqarah Ayat: 31
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya :
“Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku
nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar’.”
Tafsir Ayat dari Buku
Ada beberapa tafsiran mengenai QS Al-Baqarah ayat : 31, diantaranya
:
1.
Tafsir
Al-Maraghi
وَعَلَّمَ آدَمَ
الأسْمَاءَ كُلَّهَا
Yang dimaksud dengan al-asma’ adalah nama-nama Allah, yakni
nama-nama yang telah kita ketahui dan kita imani wujud-Nya. Sengaja digunakan
istilah al-asma’ karena hubungannya kuat antara yang menamakan dan yang
dinamai. Allah SWT telah mengajari Nabi Adam berbagai nama makhluk yang telah
diciptakan-Nya. Kemudian Allah memberinya ilham untuk mengetahui eksistensi
nama-nama tersebut. Juga keistimewaan-keistimewaan, cirri-ciri khas dan istilah-istilah
yang dipakai.
ثُمَّ
عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ
Artinya, Kemudian Adam mengajarkan
kepada para Malaikat beberapa nama tersebut secara ijmal dengan penyampaian
berdasarkan ilham atau yang sesuai. Di dalam pengajaran dan penuturan Adam
kepada para Malaikat terkandung tujuan memuliakan kedudukan Adam dan
terpilihnya Adam sebagai khalifah. Dengan demikian, para Malaikat tidak lagi
merasa tinggi diri. Sekaligus merupakan penunjukan ilmu Allah yang hanya
dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
فَقَالَ
أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ
Para Malaikat dituntut untuk
menyebutkan nama-nama tersebut, tetapi mereka tidak akan mungkin mampu
mengatakannya. Hal ini karena mereka sama sekali belum pernah mengetahuinya.
Dalam ayat ini terkandung isyarat bahwa memegang tampuk khalifah, mengatur
kehidupannya, menata peraturan-peraturannya, dan menegakkan keadilan selama di
dunia ini diperlukan pengetahuan khusus yang membidangi masalah kekhalifahan,
disamping adanya bakat untuk terjun di bidang ini.
إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya, Apabila ada sesuatu hal
yang membuat kalian heran mengenai khalifah yang diserahkan kepada manusia, dan
kalian pun mempunyai dugaan kuat yang disertai bukti, maka silahkan kalian
menyebut nama-nama yang Aku sebutkan dihadapan kalian.
Jadi, pengertian ayat tersebut
seolah-olah mengatakan kepada Malaikat, “Kalian tidak mengetahui
rahasia-rahasia apa yang kalian maksudkan. Jadi, bagaimana kalian berani
mengatakan sesuatu yang belum kalian ketahui”.
Kata Haula’i terkandung suatu
makna bahwa ketika Nabi Adam menyebutkan nama-nama tersebut, adalah menyebut
nama-nama benda yang dapat dijangkau alat indra, seperti burung-burung,
margasatwa, dan jenis-jenis hewan yang ada dihadapannya.[1]
2.
Tafsir
Al Azhar
“Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-namanya semuanya.” (pangkal ayat 31)
Artinya diberikan oleh Allah kepada Adam itu semua ilmu:
“Kemudian Dia kemukaakan semuanya kepada Malaikat. Lalu Dia
berfirman: Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu
makhluk-makhluk yang benar.” (ujung ayat
31).
Sesudah Adam dijadikan, kepadanya
telah diajarkan oleh Allah nama-nama yang dapat dicapai oleh kekuatan manusia,
baik dengan panca indra ataupun dengan akal semata-mata, semuanya diajarkan
kepadanya. Kemudian Tuhan panggillah Malaikat-malaikat itu dan Tuhan tanyakan
adakah mereka tahu nama-nama itu?
“Mereka menjawab :
Maha Suci Engkau! Tidak ada pengetahuan bagi kami, kecuali apa yang Engkau
ajarkan kepada kami. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu, lagi Maha
bijaksana.” (ayat 32).
Di sini nampak penjawaban Malaikat
yang mengakui kekurangan mereka. Tidak ada pada mereka pengetahuan, kecuali apa
yang diajarkan Tuhan juga. Mereka memohon ampun dan karunia menjunjung kesucian
Allah bahwasanya pengetahuan mereka tidak lebih daripada apa yang diajarkan
juga. Yang mengetahui akan semua hanya Allah. Yang bijaksana membagi-bagikan ilmu
kepada barang siapa yang Dia kehendaki.
Merenungi dari ayat ini, ahli-ahli
tafsir dan kerohanian Islam mendapat kesimpulan bahwasanya dengan menjadikan
manusia, Allah memperlengkap pernyataan kuasaNya.[2]
3.
Tafsir
Ibnu Katsier
Di sini Allah menyebut kemuliaan
kedudukan Nabi Adam a.s. karena Allah memberinya ilmu nama dari segala benda
dan itu terjadi sesudah sujudnya para Malaikat kepada Adam, dan didahului pasal
ini sesuai dengan pertanyaan para malaikat tetang hikmat pengangkatan khalifah
di bumi yang langsung bahwa Allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui.
Juga untuk menerangkan kelebihan Adam dengan ilmunya.
Allama Aadam al asma’a kullah. Ibnu
Abbas berkata, “Mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda yang akan
dijadikan amnusia, binatang dan lain-lainnya dari segala keperluan hajat
manusia di dunia ini.”
Anas r.a. berkata, Nabi Saw.
Bersabda, “Kelak pada hari kiamat akan berkumpul semua kaum mukminin, kemudian
mereka berkata, Andaikan kita mendapat syafi’ yang dapat menyampaikan hal kita
kepada Tuhan, lalu mereka pergi kepada Adam dan berkata, Engkau ayah dari semua
manusia, Allah telah menjadikan engkau langsung dengan tangan-Nya, dan
memerintahkan kepada Malaikat supaya sujud kepadamu, dan mengajarkan kepadamu
nama segala sesuatu maka berikan syafaatmu kepada Tuhan untuk meringankan kami
dari penderitaan ini. Jawab Nabi Adam, “Bukan bagianku”” (HR. Bukhari, Muslim,
an-Nasa’i, Ibnu Majah).
C.
Ilmu Yang dimiliki Manusia
Ilmu adalah salah satu sifat Allah, karena
sifat itulah Dia disebut dengan ‘Alim (Yang Maha Tahu). Dia adalah
sumber utama ilmu. Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan
anugerah-Nya. Ilmu Allah tidak terbatas, manusia hanya memperoleh sedikit saja
daripadanya. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan ilmu dan
pengetahuan yang telah diajarkan-Nya.
Al-Qur’an menggambarkan, ada dua
cara Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan
wahyu atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Cara yang terakhir ini berati,
bahwa Allah mengajar manusia melalui media yaitu fenomena alam yang Dia
ciptakan.
Maka pelajarilah Al-Qur’an dan alam
niscaya manusia akan mendapatkan ilmu, ketenangan serta kebahagiaan dunia dan
akhirat. Namun, Allah juga mengingatkan manusia agar mempelajari semua itu
berangkat atau bermula dari Tuhan (bismi rabbik), supaya ilmu yang
diperoleh tidak melahirkan kesombongan dan arogansi.[3]Terdapat
lima keutamaan orang yang menuntut ilmu, yaitu:
1.
Mendapat
kemudahan untuk menuju surga.
2.
Disenangi
oleh para malaikat.
3.
Dimohonkan
ampun oleh makhluk Allah yang lain.
4.
Lebih
utama daripada ahli ibadah.
5.
Menjadi
pewaris Nabi.[4]
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Ilmu berarti memahami hakikat
sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu. Ilmu pengetahuan sangat
dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun
di akhirat. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya
dalam kehidupan ini, baik tugas khalifah maupun tugas ubudiah. Orang yang
mencari ilmu dengan ikhlas akan dibantu oleh Allah dan akan dimudahkan baginya
jalan menuju surga.
Allah adalah sumber utama ilmu.
Segala pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan anugerah-Nya. ada dua cara
Tuhan mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung yang disebut dengan wahyu
atau ilham dan pengajaran tidak langsung. Ilmu yang diperoleh tidak boleh
melahirkan keegoisan, arogansi, dan tinggi hati.
DAFTAR PUSTAKA
M. Yusuf, Kadar. 2013. Tafsir Tarbawi (Pesan-Pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan). Jakarta:
Amzah.
Umar, Bukhari.
2014. Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadis). Jakarta: Amzah.
Al-Maraghy,
Ahmad Musthafa. 1985. Terjemah Tafsir Al-Maraghy. Semarang: Toha Putra.
Hamka. 2001.
Tafsir Al Azhar Juz 1. Jakarta: CV Pustaka Panjimas.
Katsier, Ibnu.
1987. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT Bina Ilmu Offset.
Biodata
Nama : Ianatul
Maula
NIM : 2117250
Tempat,Tanggal
Lahir : Pekalonagn, 27 November 1998
Alamat : Dsn. Pasirsari
Pekalongan Barat
Fakultas / Jurusan
: FTIK / PAI
Riwayat Pendidikan :
TK Muslimat NU
MIS PASIRSARI 01
PEKALONGAN
SMP N 08 PEKALONGAN
SMK N 3 PEALONGAN
[1]
Ahmad Musthafa Al-Maraghy, Terjemah Tafsir Al-Maraghy, (Semarang: CV.
TOHA PUTRA, 1985) hlm. 137-139
[2]
Hamka,Tafsir Al Azhar Juz I (Jakarta: Pustaka Panjimas,2001), hlm.
204-205
[3]
Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi (Pesan-Pesan Al-Qur’an Tentang Pendidikan), (Jakarta:
AMZAH, 2013), hlm. 16-20.
[4]
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadis), (Jakarta:
AMZAH, 2014), hlm. 16.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar